WELCOME IN "RENUNGAN PRIBADI", HOPEFULLY..CONTEMPLATIVE IN THIS BLOG CAN BECOME BLESSING AND INSPIRE LONGING OF US TO ALWAYS NEAR BY WITH - HIM

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Senin, 04 Juni 2018

Mengasihi dengan segenap hati.

Dalam khotbah di atas bukit, Tuhan Yesus menegaskan bahwa kehadiran-Nya di dunia bukan untuk meniadakan Hukum taurat melainkan untuk menggenapinya. Seperti yang tertulis dalam Matius 5 : 17-18: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepada mu: sesungguhnya satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”.

Pada kesempatan lain, di mana Tuhan Yesus menegaskan pula ketika para ahli Taurat berkumpul, mencobai Dia dengan menanyakan kepada Tuhan Yesus : “Hukum manakah yang paling terutama dalam hukum Taurat?”

Yesus menjawab mereka seperti yang tertulis dalam Matius 22 : 37 – 40. Jawab Yesus :”Kasihilah Tuhan, Allah-Mu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Sangat jelas dan tegas Tuhan Yesus menyatakan bahwa: 1. Ia tidak meniadakan Hukum Taurat bahkan Ia menjamin bahwa tidak akan ada yang dikurangi walau pun cuma satu titik; 2. Hukum yang terutama dari Kitab Taurat terdiri dari dua bagian; bagian yang pertama – mengasihi Tuhan dan bagian yang kedua – mengasihi sesama, 3. Hukum pertama (mengasihi Tuhan, Allah) di wujudkan dengan tiga syarat yang wajib dipenuhi ketiga-tiganya (yaitu: Segenap hati, jiwa dan akal budi); dan 4. Seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi tergantung pada kedua hukum tadi ( bukan salah satu hukum saja); artinya - hukum yang pertama dan hukum yang kedua merupakan satu kesatuan secara utuh.

Karena untuk menguraikan dan menjelaskan tentang tema ini (Yesus dan Hukum Taurat) cukup luas; tidak akan cukup dalam satu kali pertemuan; maka pembahasan pada renungan ini saya bagi dalam beberapa subtema yaitu: 

1. Kasihilah Tuhan, Allah mu dengan segenap hati, 
2. Kasihilah Tuhan, Allah mu dengan segenap jiwa, 
3. Kasihilah Tuhan, Allah mu dengan segenap akal budi.
4. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Dalam renungan kali ini saya batasi pada sub tema yang pertama saja yaitu Kasihilah Tuhan, Allah mu dengan segenap hati. (semoga di kesempatan berikutnya; Tuhan beri kesempatan dan kemampuan untuk menyampaikan sub tema berikutnya)

Kalimat dalam sub tema ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel pertama: Kasihilah Tuhan, Allah mu, dan variabel kedua : Dengan segenap hati. Artinya Allah menghendaki kita untuk mengasihi-Nya. ; dan Ia ingin kita mengasihi-Nya dengan segenap hati (bukan dengan setengah hati).
Makna kata “mengasihi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu berasal dari kata dasar Kasih yang berarti perasaan sayang (cinta, suka kepada); sedangkan makna kata Mengasihi yaitu menaruh kasih kepada/mencintai/menyayangi. 

Karena renungan ini konteksnya dengan bacaan alkitab, maka makna kata “Mengasihi” akan lebih tepat kalau kita merujuk pada makna “Mengasihi” yang ditulis menurut alkitab.
Dalam Yohanes 14:15 Yesus mengatakan demikian: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Kemudian pada Yohanes 14:21 “Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. 

Dari ayat tersebut diatas – ada tiga hal yang perlu digaris bawahi ; yang perlu kita perhatikan yaitu 1. Menuruti, 2. Memegang dan 3. Melakukan. Artinya - ciri seseorang yang mengasihi Tuhan, ada tiga ; yaitu: menuruti, memegang dan melakukan perintah Tuhan. 

Dalam suatu kesempatan; ketika Yesus mengajar di Bait Allah; datanglah para imam-imam kepala dan tua-tua bangsa yahudi kepada-Nya, Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan. Dalam Matius 21: 28 – 31, bunyinya demikian: “... Apa pendapat mu tentang ini : seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang ke dua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah diantara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?. Jawab mereka: “Yang terakhir”.

Anak yang pertama pada perumpamaan tersebut; dia menuruti perintah (tidak membantah sedikitpun) dengan meng”iya” kan perintah bapaknya. Berbeda dengan anak yang kedua – yang awalnya dia membantah perintah (tidak menuruti); tetapi pada akhirnya ia menyesal kemudian ia pergi ke kebun anggur untuk bekerja.
Artinya, anak yang pertama dia hanya menuruti saja tetapi tidak melakukan. sedangkan anak kedua awalnya tidak menurut tetapi kemudian melakukan perintah. 

Saya jadi teringat; ketika pengkhotbah berseru “yang percaya bilang Amin!!” umat serentak bilang “aminn”. Tetapi ketika diluar gereja; lupa dengan isi khotbah dan pesan2 yang terkandung didalamnya; jangankan melakukan!.. ingat ayat apa saja yang disampaikan sudah cukup baik, apalagi mengerti dan memahaminya.. lalu mengamalkannya itu luar biasa!!.

Berbahagialah kita yang ada diruangan ini semoga kita termasuk orang yang menuruti perintah-Nya dan semoga kita pun dapat melakukan dalam kehidupan kita, Amin.

Ciri orang yang mengasihi Tuhan ; disamping dua ciri sebelumnya (yaitu: menuruti dan melakukan); Ciri berikutnya adalah Memegang perintah-Nya.

Saya teringat ketika masih ikut pramuka, ada sebuah rintangan berupa jembatan dari sebatang bambu; dan kita harus menyebrang dari sisi satu ke sisi yang lainnya. Jembatan itu tidak stabil karena bambu yang menjadi pijakan kita; tergantung pada tali; sehingga dapat dibayangkan setiap orang yang melintas diatas jembatan tersebut ; pasti jatuh apa bila tidak berpegangan pada pegangan yang dibuat oleh kakak pembina kita (biasanya berupa tali yang membentang, fugsinya memang untuk pegangan)

Dalam kehidupan rohani, agar tidak terpeleset dan jatuh (dalam dosa); kita butuh berpegang pada pegangan; artinya kita butuh pegangan yang menjadi pedoman hidup kita; itulah firman Allah ; Perintah Allah yg diberikan kepada kita untuk dipedomani.
Sekali lagi saya sampaikan, ...Berbahagialah kita yang ada di sini, masih setia memegang perintah Tuhan sebagai pedoman hidup kita, amin...

Mengasihi Tuhan, tidak cukup hanya menuruti (meng”iyakan” atau meng”amin”kan) perintah-Nya.
Tuhan ingin kita memegang perintahnya sebagai pedoman hidup kita ; dan Tuhan menghendaki kita melakukannya (mengaplikasi kannya) dalam hidup bermasyarakat.

Apa janji Tuhan - kepada kita jika kita melakukan kehendak Tuhan, Bapa di Sorga? 
Dalam Matius 7 : 21 berbunyi “Bukan setiap orang yang berseru kepada Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. 
Artinya, Tuhan, Allah menjanjikan Sorga bagi orang yang melakukan kehendak-Nya. Apakah yang dimaksud dengan “kehendak-Nya itu?.. Bagaimana kita dapat melakukan kehendaknya bila kita sendiri tidak tahu/ tidak memahami apa yang dikehendaki-Nya.

Saya teringat suatu ketika; (jaman sekarang bisnis apapun bisa secara online) Saya punya hobi fotografi, suatu ketika saya dapat info klo foto2 yang bagus dapat di upload di internet, ketika didownload ; kita dapat uang. Singkat cerita saya daftar; ngisi formulir ; registrasi dst., selesai sampai ke step ketentuan pembayaran, ternyata bayarnya pakai PAYPAL. Nah...lho apa itu paypal?.. Saya tanya sana, sini sampe saya datang ke bank tanya kepada CS, ke Juru bayar, semuanya tidak ada yang bisa menjelaskan dengan detail. Sampai akhirnya saya pusing sendiri; bagaimana saya melakukan penerimaan pembayaran dengan Paypal, Kalo prosedur dan ketentuan Paypal saja saya belom paham. Akhirnya saya baca semua testimoni dan diskusi di Kaskus ttg Paypal. 

Yang ingin saya sampaikan disini adalah - bagaimana seseorang mengatakan “saya akan melakukan kehendak Allah” bila dia sendiri tidak tahu tentang apa yang dikehendaki Allah pada dirinya. Untuk hal pembayaran PayPal saja saya harus mempelajari prosedur dan persyaratan dengan benar, apalagi untuk hal melakukan kehendak Allah.

Jadi – kesimpulannya; cari dan pahami dulu kehendak-Nya; kemudian baru kita dapat melakukan kehendak-Nya itu dengan benar. Pertanyaannya; Dimana kita mencarinya dan apa yang dikehendaki Allah kepada kita? .. Semua jawaban ada tertulis dalam kitab Taurat dan kitab para nabi.

Sekedar untuk diketahui semua kitab dalam Perjanjian Lama ditulis sebelum kelahiran Yesus, yang mana 97% isinya ditulis dalam bahasa Ibrani dan sisanya dalam bahasa Aram. Kitab-kitab Perjanjian Lama secara umum dapat dibagi menjadi beberapa bagian: 1. Kelima kitab pertama atau Taurat; 2. Kitab sejarah yang menceritakan sejarah bangsa Israel sejak penaklukan Kanaan sampai pembuangan ke Babilonia; 3. Kitab puisi dan hikmat yang dalam beragam bentuknya berhubungan dengan masalah kebaikan dan kejahatan di dunia ini, dan; 4. Kitab nubuat atau kitab para nabi yang berisi peringatan-peringatan terkait konsekuensi jika berpaling dari Allah.

Sejak jamannya Musa dengan kitab Taurat, kehendak Allah terhadap apa yang seharusnya dilakukan manusia; Allah sampaikan kepada para utusan-Nya; dan itu cukup panjang sekali (39 kitab).
Kita patut bersyukur, Tuhan Yesus sudah meringkasnya kedalam “Hukum yang terutama “ ; seperti yang ditulis dalam Matius 22 : 37-40”. :”Kasihilah Tuhan, Allah-Mu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia sepeti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Kita sudah bahas bagian awal dari sub tema yg pertama; yaitu tentang mengasihi Tuhan. Selanjutnya sambungan dari sub tema tersebut, yg akan kita bahas berikutnya; yaitu kata : Segenap hati. 
Untuk memahami tentang istilah segenap hati, perlu kita pahami dulu; mengapa alkitab menggunakan “Hati” dalam konteks tentang hukum yang terutama? 

Kata yang diterjemahkan “hati” (ingat: bahasa asli alkitab adalah Ibrani, Aram dan Yunani) adalah salah satu kata yang cukup sering dipergunakan dalam Alkitab. Beberapa penulis renungan mencatat, kata ini muncul 876 kali dalam Alkitab.

Kata “hati” dalam bahasa indonesia bersifat ambigu; (memiliki lebih dari satu arti) yaitu dapat bermakna organ vital dari tubuh manusia dengan fungsi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup, memproteksi dari racun, dst. Dan dapat juga bermakna batiniah seseorang. Seperti sering kita dengar “perkataan dan perbuatan seseorang mencerminkan isi hatinya”. Karena konteks renungan ini adalah tentang bacaan dalam alkitab, maka saya merujuk pada makna “Hati” menurut apa yg ditulis dalam alkitab. 

Saya tertarik mengapa alkitab menempatkan “Hati” pada urutan pertama, (karena urutan setelah hati : jiwa lalu akal budi), lalu saya coba mengumpulkan beberapa tulisan renungan kristiani yang mengupas tentang Hati ini.

Ada beberapa alasan mengapa “Hati” menjadi bagian penting dalam hukum yang terutama dalam kitab Taurat.
Namun sebelum lebih jauh, marilah kita kupas tentang definisi “hati” menurut alkitab terlebih dahulu..

Pendapat umum beranggapan bahwa kepala (otak) menjadi pusat dan pengatur tubuh manusia (kehidupan manusia). Tetapi, Alkitab menyatakan bahwa “hati” yang menjadi pusat itu; Amsal 4:23: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Dan ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 6 : 45 : Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbenda-haraan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya”.

Secara alkitabiah, bahwa hati - berisi seluruh pikiran, perasaan, dan kehendak seseorang. Injil Markus mencatat dalam (Markus 7:20-22) demikian: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan”.

Yang "menajiskan" seseorang (artinya terpisah dari hidup, keselamatan, dan persekutuan dengan Kristus) adalah apa yang keluar dari hati orang tersebut, kalau hatinya sudah tidak baik, maka yang keluarpun (perbutan2nya) menjadi tidak baik.

Maka makna “hati” dalam alkitab bahwa hati sebagai pusat pikiran; hati sebagai pusat perasaan dan; hati sebagai pusat kehendak manusia dapat diartikan bahwa pikiran, perasaan dan kehendak (keinginan) adalah bersumber dari dalam hati; Kalau sumbernya baik maka baik pulalah produknya (pikiran, perasaan dan keinginan). Ditegas pula dalam Mat 15:19: Karena dari hati timbul segala pikiran jahat ... dst.) 

Konteks tentang hati disini merujuk pada “niat”. Niat yang baik menghasilkan produk yang baik (ingat: produk dimaksud adalah pikiran, perasaan dan keinginan), meskipun kenyataan – niat sdh baik pun hasilnya belum tentu baik. (banyak contoh, salah satunya Kejadian di jalan raya, niatnya baik; mau nolong orang kecelakaan, eh malah jadi korban dipukuli massa ; karena dikira dia pelaku yang nabrak)

Setelah kita memahami makna “hati” yang dimaksud dalam alkitab pada renungan ini, maka kita lanjutkan tentang kata segenap.
Arti kata Segenap menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu dari kata dasar “genap” yang berarti seluruh; semua; selengkapnya. 
Makna kata genap juga berarti lawan dari kata “ganjil”, Namun untuk konteks bacaan alkitab disini ; makna kata segenap hati lebih tepat diartikan sepenuh hati; lawan kata dari “setengah hati”.

Untuk memahami dan membedakan antara segenap hati dan setengah hati, sebenarnya tidak sulit.(Kita bisa membedakan atau menilainya; apalagi Tuhan).

Contoh kejadian yang ada disekitar kita.
Bapak-bapak pernah mengajak istri ke suatu acara (mungkin acara kantor, reuni,dll) ; dimana sang istri merasa asing tidak mengenal satupun orang disana? Dan dia terjebak tidak bisa menolak ajakan anda? Kira-kira – segenap hatikah atau setengah hatikah istri anda hadir disana? Nah.., Sekarang bandingkan ketika anda mengajaknya ke toko tas atau toko sepatu. 100% ... pasti segenap hati. 

Contoh lain, ada seseorang yang tidak suka bersepeda, tapi karena protokoler kantornya .. dia harus meninggalkan keluarga untuk kegiatan bersepeda tersebut, padahal hari libur, dan seminggu sebelumnya sdh janji akan ngajak anak2nya rekreasi. Nah loh... berani bilang kalo dia hadir dengan segenap hati?

Satu lagi contoh. Ada seorang yang suka sekali musik dangdut, bahkan pernah juara joget dangdut tingkat kelurahan; suatu ketika di kantornya ada acara dangdutan, boleh banget joget apalagi naek panggung - bebas, disawer lagi sama si bos. Lalu orang tadi joget, sampe keringetan – matanya merem melek. Trus anda percaya kalo dia bilang jogetnya setengah hati?

Pertanyaannya; apa indikator atau ciri yang membedakan antara segenap hati dan setengah hati?

Indikator untuk membedakan antara “segenap hati” dan “setengah hati”; Pada setengah hati ada unsur keterpaksaan; tetapi pada segenap hati/sepenuh hati ada unsur kerelaan/keiklasan. Ini adalah indikator yang berlaku umum; atau biasanya.

Mungkin anda bertanya dalam hati - mungkin gak; ada orang yang awalnya setengah hati, tapi berubah menjadi segenap hati? Atau sebaliknya ?... mungkin saja, karena dengan berjalannya waktu; dan keterbukaan hatinya; seseorang bisa menerima keadaan; dan menikmati situasi saat itu. Demikian sebaliknya; karena kecewa dengan yang diharapkan; suasana hati jadi berubah; akhirnya antipati.

Namun demikian, secara umum segenap hati biasanya diawali oleh kerelaan/keikhlasan, tetapi setengah hati biasanya diawali oleh keterpaksaan.

Saudara /i yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus.
Mengakhiri renungan ini, mari kita introspeksi diri apakah kita betul-betul mengasihi Tuhan (ingat: menuruti, memegang dan melakukan kehendak Tuhan). Kalau ternyata ketiga2nya sudah; pertanyaan berikut, apakah dengan segenap/sepenuh hati karena kerinduan yang mendalam ; atau karena tidak enak dinilai oleh orang lain. Sepuluh perintah Allah sudah dilaksanakan? 
Sudah !! ; yakin dengan segenap hati?? Pasti tidak ... itu normal.

Ketika melakukan kesalahan sudah tobat? Sudah! Tobat sejati (segenap hati)? Hehe gak yakin...
Gimana mau bilang tobat dengan tobat sejati (segenap hati); genap khan artinya penuh; kenyataan dalam hatinya masih ada “kotoran”/dosa.
Ibarat gelas yang diisi dengan air sampai penuh tetapi didalamnya ada banyak batu kerikil hampir separuh gelas. Kelihatannya memang airnya penuh tetapi sebenarnya tidak, karena separuhnya sendiri adalah “ruang” yang digunakan oleh kerikil-kerikil itu, trus mengklaim klo airnya segelas penuh.

Untuk itu, marilah kita teliti lagi; apakah masih ada “kerikil-kerikil” dalam hati kita; yang menyebabkan kita sulit untuk melakukan kehendak Allah dengan segenap hati. Kalau masih ada segera buang kerikil-kerikil itu, kalau ternyata sulit sekali – itu karena kita menggunakan kekuatan kita sendiri. Makanya kita butuh bantuan Tuhan, karena bagi Tuhan tiada yang mustahil. 

Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah dan tidak ada manusia yang sempurna hidupnya. Bapa Abraham yang imannya tidak diragukan lagi dan suci hidupnya; pernah berbohong ketika memasuki Mesir (Istrinya Sara dibilang adiknya); Nabi Nuh pernah minum sampai mabuk berat; Raja Salomo – di akhir masa kejayaannya menjadi ”sponsor” pembangunan patung pemujaan dewa untuk istri2nya. Hanya satu di dunia ini yang tidak berbuat salah, Dialah Yesus Kristus satu-satunya yang tidak pernah berbuat salah.

Kita patut bersyukur bahwa Allah kita - maharahim dan maha pengampun. Maka dari itu, satu-satunya cara untuk menyucikan hati dengan bertobat sejati, sehingga kotoran yang ada di hati kita dibersihkan oleh-Nya; dan kita dapat mengasihi (ingat: menuruti, memegang dan melakukan perintah) Tuhan, Allah dengan segenap hati. Karena tidak mungkin seseorang mengatakan kalau dia telah mengasihi Tuhan, Allah dengan segenap hati, tetapi masih ada “dosa” kotoran di dalam hatinya. Ada dosa yang muncul dari dalam hati, tetapi tidak terasa oleh seseorang itulah “kesombongan”; bahkan dosa ini bisa muncul di dalam rumah ibadat pada saat seseorang merasa telah melakukan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya lebih dari orang-orang lain; merasa sudah mengerti kehendak Tuhan lebih dari orang-orang lain.

Semoga pesan-pesan Tuhan yang terkandung dalam renungan ini dapat bersemayam dalam hati kita yang sudah dibersihkan karna pertobatan kita, dan kita semua diberi kesempatan dan kemampuan mengamalkan firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

Marilah kita berdoa..
Bapa di Surga, kami bersyukur atas firman-Mu yang telah Engkau nyatakan kepada kami.
Berikanlah kepada kami kemampuan untuk dapat menghayati dan melakukan kehendak-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kami. 
Ya Bapa, kasihanilah kami dan ampuni dosa-dosa kami agar kami selalu layak dan pantas untuk hidup sesuai kehendak-Mu serta jadikanlah kami pembawa damai bagi orang-orang di sekitar kami, demi Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kini dan sepanjang segala masa.
Demi nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin.

Referensi:
1. Alkitab – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta, 2009.
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Yesus
3. https://id.wikipedia.org/wiki/ Perjanjian_Lama
4. http://alkitab.sabda.org/article.php?id=8425 
5. http://www.sarapanpagi.org/hati-nurani-vt178.html
6. https://www.jba.gr/Bahasa/Kata-Hati-dalam-Alkitab.htm
7. https://www.gotquestions.org/Indonesia/mengasihi-Allah.html
8. http://www.ekaristi.org/artikel/sumarya2.php

3 Postingan Populer